PEMASYARAKATAN AL-QUR’AN DI TENGAH BANGSA INDONESIA

 

Pemasyarakatan al-Qur’an bukanlah hal baru untuk dibicarakan. Sudah sejak dahulu para ulama mengupayakan pemasyarakatan al-Qur’an pada bangsa ini, seiring dengan pemasyarakatan keIslaman itu sendiri. Namun ketika bangsa Indonesia sudah menjadi bangsa Muslim terbesar di dunia, justru pemahaman al-Qur’an masih ada pada batas yang sangat minim. Terlihat ada ketimpangan di dalam upaya pemasyarakatan al-Qur’an. Banyak orang yang tidak tahu banyak tentang al-Qur’an, bahkan boleh dibilang ada pula Muslimin Indonesia yang tidak mengerti al-Qur’an sama sekali.

 

Fakta-fakta Penting Seputar Pemasyarakatan Al-Qur’an

 

Sekurang-kurangnya dapat diterangkan ada lima prinsip penting berkenaan dengan al-Qur’an:

Pertama: Bahwa al-Qur’an adalah Firman Allah yang dijaga keasliannya oleh Allah sendiri (Q.S. Al-Hijr:9). Terbukti tidak ada satu kitab pun, selain al-Qur’an, yang dapat bertahan lebih dari seribu tahun tanpa membutuhkan revisi, selain al-Qur’an.

Kedua: Bahwa tidak ada perselisihan di antara sebagian ayat dengan sebagian lainnya (Q.S. An-Nisaa’:82). Anggapan adanya ayat-ayat yang berselisih di dalam al-Qur’an, itu hanya diakibatkan oleh pemahaman yang keliru tentang sejumlah ayat.

Pemasyarakatan al-Qur'an

Ketiga: Bahwa secara umum pernyataan-pernyataan al-Qur’an merupakan keterangan yang jelas (Q.S. Al-Baqarah:99; Al-Hajj:16; dan An-Nuur:1). Ini menjelaskan bahwa “secara umum” al-Qur’an tidak membutuhkan tafsiran. Kesulitan di dalam memahami al-Qur’an lebih cenderung karena tidak terbiasa dengan gaya penyampaian al-Qur’an yang bersifat samawi. Artinya bahwa jurnalistik al-Qur’an mempunyai nada yang khas, berbeda dengan gaya jurnalistik manusiawi. Dan untuk itu membutuhkan rutinitas dan pembiasaan.
Keempat: Bahwa al-Qur’an sudah dimudahkan oleh Allah untuk dipelajari umat manusia,  baik melalui bahasa Arab maupun terjemahan (Q.S. al-Qamar:17). Jadi tidak etis dan durhaka apabila seseorang berpendapat bahwa mempelajari al-Qur’an itu sulit. Bahkan dijelaskan secara berulang-ulang pada Surat al-Qamar, ayat: 22, 32, dan ayat 40.

Kelima: Bahwa enggan mempelajari dan menelaah al-Qur’an (baik kelompok maupun individu) adalah perbuatan dosa dan dapat mengakibatkan hati menjadi terkunci (Q.S. Muhammad:24).

Hadis-hadis Adalah Memperjelas Konsep Al-Qur’an

 

Al-Qur’an bukan diperuntukkan hanya kepada orang-orang dengan kecerdasan (intelektual) yang tinggi, tetapi juga ditujukan kepada Muslimin awam, bahkan kepada “an-naasu” (manusia secara keseluruhan Muslim maupun kafir). Dari sini dapat disimpulkan bahwa al-Qur’an akan dapat dipahami, baik oleh orang yang mahir maupun orang asing, orang yang sama sekali tidak terbiasa dengan kalimat-kalimat al-Qur’an. Kenyataan ini membuktikan bahwa “dalam taraf tertentu” seseorang akan dapat memahami al-Qur’an walau tanpa bimbingan pihak manapun.

Hadis-hadis dalam artian tindakan dan keterangan yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. adalah peragaan tentang isi al-Qur’an itu sendiri. Teladan tentang pelaksanaan firman Allah dengan cara yang terbaik.

 

Hadis-hadis Dha’if, Mungkar, dan Palsu

 

Kenyataan bahwa di sana sini terdapat ratusan bahkan ribuan hadis-hadis palsu adalah sesuatu yang tidak  dapat dipungkiri. Bahkan konon hadis yang dipandang oleh ulama sebagai hadis sahih dapat saling berbeda (bahkan berlawanan) sebagian dengan sebagian yang lain. Konsekwensinya tentu di sana sini timbul paham-paham yang kontradiktif seperti yang ada di depan mata kita dewasa ini.

Ada kelompok ulama yang berpegang pada hadis-hadis yang di sana, ada pula kelompok yang berpegang pada hadis-hadis yang di sini. Lalu siapakah yang bertanggung jawab terhadap para mualaf yang menjadi bingung di dalam mencari kebenaran Islam? Apakah yang dapat dijadikan standar kebenaran ketika pasar hadis sudah menjadi carut-marut, selain kembali kepada tekstual dan kontekstual al-Qur’an?

 

Fakta Bahwa Hadis-hadis Sahih Sudah Tercemar

 

Sebagai pembuktian dari apa yang kami jelaskan, silahkan pembaca memperbandingkan antara hadis-hadis sahih yang disusun oleh Imam an-Nawawi di dalam Riyadhush Shalihin dengan Hadis-hadis Sahih Kitab Enam yang ada dalam himpunan Maushu’ah (Edisi Maktabah Syamilah), tentu akan terlihat banyak perbedaan teks-teks hadis yang konon sama-sama sahih, melalui perawi sama.

Terlepas perbedaan-perbedaan itu karena salah cetak atau kekhilafan, terbukti bahwa itu dapat terjadi pada hadis-hadis pada tingkat sahih (atau diyakini sebagai hadis sahih). Betapa pula dengan hadis-hadis dha’if, mungkar, dan mudallas?

 

Tuntutan Agar Masyarakat Indonesia Memperluas Pemahaman al-Qur’an

 

Ketika situasinya sudah sedemikian rupa, mengapa kita tidak kembali merujuk dan menelaah al-Qur’an secara lebih luas dan lebih mendalam?

Ada banyak jalan praktis yang dapat dilakukan untuk itu. Di antaranya adalah dengan mengajarkan arti dari masih-masing kosa kata al-Qur’an, agar bangsa ini dapat mempelajari al-Qur’an secara lebih dekat dan transparan. Agar mengerti mana yang titik mana yang koma. Sehingga dapat membacanya dengan benar, tidak gaduh dan tidak digaduhkan (Q.S. Al-Baqarah:121). Bukan sekedar membaca dan membaca tanpa mengerti apa yang dibacanya. Tidak tahu dan tidak ingin tahu. Dan dengan cara itu pula dia berharap memperoleh sepuluh kebaikan melalui masing-masing huruf !!

 

Sekarang Banyak Edisi Terjemah Al-Qur’an Yang Menyertakan Arti Kata-perkata

 

Segala puji bagi Allah, karena dalam kegaduhan ini, rupanya telah banyak ulama yang menganjurkan agar edisi terjemah al-Qur’an menyertakan arti kata-perkata. Supaya pembaca dapat memahami al-Qur’an secara lebih transparan. Sekitar satu dekade belakangan ini mulai bermunculan edisi terjemah seperti itu. Sebuah kesadaran bahwa bangsa Indonesia ingin memahami Islam dengan cara yang lebih jelas. Ini adalah sebuah tuntutan intelektual, spiritual, dan juga keimanan. Ulama tersebut menyediakan diri untuk menjembatani antara hamba-hamba yang mencari Allah dengan jalan Allah yang hakiki. Semoga mereka yang terkait di dalamnya dirahmati Allah.

Pemasyarakatan al-Qur’an di tengah bangsa Indonesia adalah suatu upaya yang harus disegerakan. Sebab kebenaran sejati adalah yang datang dari Allah.

Begitulah kamu! Kamu berbantah-bantahan tentang apa yang kamu ketahui, tetapi mengapa kamu berbantah-bantahan juga tentang apa yang tidak kamu ketahui? Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui. (Q.S. Ali Imran:66).

Allah mengetahui sedang kamu tidak !!

 

Semoga bermanfaat.

 

Apabila Anda berminat untuk menerjemahkan buku-buku bahasa Arab ke dalam bahasa Indonesia, maka Anda dapat menghubungi kami pada nomor 081 575757 536. Untuk melihat contoh-contoh silahkan klik DI SINI.

Berikut kami sertakan peta lokasi kami:

Hasan Barakuan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMASYARAKATAN AL-QUR’AN DI TENGAH BANGSA INDONESIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *