Muhammad bin Ismail Al-Bukhari

Lelaki Dengan Pena dan Tinta Emas

Muhammad bin Ismail al-Bukhari adalah seorang penyusun kitab dan sarjana terbesar dalam bidang hadis (himpunan catatan tentang ucapan-ucapan dan perbuatan Nabi Muhammad s.a.w.). Sebagian besar dari karya-karya Muhammad bin Ismail al-Bukhari telah diterima oleh umat Muslim Sunni (orang-orang yang mengikuti mayoritas tradisi) sebagai kitab terbesar kedua sesudah al-Qur’an.

Baik pada segi fungsinya sebagai sumber hukum agama dan juga sebagai karya suci yang diabadikan dengan tinta emas. Muhammad bin Ismail al-Bukhari, disebut dengan gelar Abu ‘Abdillah. Lahir  : 19 Juli, 810, di Bukhari, Uzbekistan – Asia Tengah.  Wafat : 31 Agustus, 870, Khartank (dekat Samarkand).

 

Al-Bukhari Penghapal yang Brilliant

Muhammad bin Ismail al-Bukhari sudah banyak menghapal tentang ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan Nabi sejak masa kanak-kanaknya. Perjalanan dalam upaya mencari lebih banyak informasi tentang hadis, bermula ketika beliau melakukan perjalanan untuk ibadah haji ke Mekah ketika beliau berusia 16 tahun.

Selanjutnya beliau pergi ke Mesir, dan selama 16 tahun beliau mencari para ahli hadis dari mulai Kairo (Mesir) sampai ke Merv di Asia Tengah.

Al-Bukhari adalah seorang  pengumpul data yang teramat sangat teliti, menunjukkan bakat yang besar di dalam mengkritisi perbeda-bedaan (tingkat-tingkat sah-tidaknya hadis), juga bakat besar di dalam menyusun seleksi berkenaan keterangan tradisi sebagai sesuatu yang asli.

Dari sekitar 600.000 riwayat hadis yang beliau kumpulkan, maka hanya 7.275 hadis saja yang beliau akui sepenuhnya dapat diandalkan. Dan hadis-hadis yang berjumlah 7.275 itu sajalah yang layak untuk dimasukkan ke dalam kitab beliau al-Jaami’ush Shahiih (Himpunan Hadis-hadis Sahih).

Muhammad bin Ismail al-Bukhari

Uzbekistan. Buchara – kompleks Lab-i Hauz, Po-i Kalon, twierdza Ark, medresy i bazary

Al-Bukhari dan Penyusunan Kitab Shahih

Beliau menyusun kitab sahihnya sesuai dengan subyeknya, dengan begitu pembaca dapat membandingkan catatan yang paling dapat diandalkan dari teladan-teladan Sang Nabi, melalui ucapan beliau atau tindakan beliau, atau penetapan suatu hukum atau doktrin keagamaan, termasuk juga tentang aneka ragam validitas tentang amal kebajikan yang dahulu dilakukan sebelum seseorang memeluk agama Islam, dan hukum-hukum pernikahan.

Pada awalnya, sebagai pendahuluan dari kitabnya berjudul Shahih al-Bukhari, beliau telah menulis kitab berjudul at-Tariikhu al-Kabiir (Sejarah Besar), yang mana berisikan biografi tentang orang-orang yang membentuk matarantai periwayat hadis secara lisan, dan menyusun kembali keterangan-keterangan tradisi yang merujuk kepada Sang Nabi.

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari lelaki dengan pena dan tinta emas. Sampai pada akhir hidupnya beliau selalu terlibat di dalam perdebatan theology di Nishapur (Iran). Beliau meninggalkan kota itu dan kembali ke  kota Bukhara. Tetapi karena beliau menolak untuk memberikan kelas khusus untuk gubernur Bukhara dan anak-anaknya, maka beliau diasingkan di kota Khartank, salah sebuah desa di dekat Samarkand (Uzbekistan Timur).

Untuk artikel-artikel yang lain klik Di Sini.

Disusun oleh : Hasan Barakuan.

Sumber rujukan : Encyclopedia Britannica 2015.

 

Di bawah ini adalah peta kota Bukhara di Uzbekistan:

Muhammad bin Ismail Al-Bukhari Lelaki Dengan Pena dan Tinta Emas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *