Kisah 1001 Malam Episode Kedua oleh Hasan Barakuan

 

Kisah 1001 Malam Episode Kedua, adalah kelanjutan dari episode sebelumnya. Pada kisah sebelumnya Raja Syah Zaman berkata: “Jika peristiwa seperti ini dapat terjadi, sedangkan diriku belum lagi meninggalkan kota, betapa pula sikap pezina ini manakala aku pergi menjauh di tempat saudaraku untuk beberapa waktu?” Berikut ini kelanjutan kisah 1001 malam episode kedua:

Selanjutnya ia pun menghunus pedangnya dan menikam keduanya sampai membunuhnya di atas ranjang itu. Pada waktu dan saat itu juga ia kembali, Ia memerintahkan untuk melanjutkan perjalanan. Ia pun melakukan perjalanan sehingga sampai ke kota saudaranya. Maka bergembiralah saudaranya atas kedatangannya, kemudian saudaranya keluar menjemputnya dan keduanya saling berjumpa, maka ia pun mengucapkan salam kepada saudaranya itu, merasa teramat gembira atas kehadirannya, dan sang raja menghias kota bagi kehadirannya, duduk bersamanya berbincang-bincang dengan senang hati.

 

   Malam Ketika Syah Zaman Teringat Istrinya

Sesaat kemudian Raja Syah Zaman teringat akan peristiwa yang terjadi atas istrinya, sehingga ia pun merasa sangat bersusah hati dan berubah rona wajahnya, tubuhnya  pun menjadi lemah. Tatkala Raja Syahrayar melihat saudaranya dalam kondisi seperti ini, ia beranggapan bahwa hal itu disebabkan karena Syah Zaman berpisah dengan negerinya dan kerajaannya, maka dibiarkannya ia dengan sikapnya dan tidak menanyakan hal itu.

Pada suatu hari ia pun bertanya kepadanya: “Wahai saudaraku, aku perhatikan tubuhmu kian melemah, rona wajahmu pun memucat?”

 

Kisah 1001 malam episode kedua

Ia menjawab: “Wahai saudaraku, sebenarnya hatiku terluka.” Tetapi ia tidak menceritakan peristiwa yang disaksikannya berkenaan dengan istrinya. Lalu kata si abang: “Saya ingin engkau bepergian bersamaku untuk berburu, semoga hal itu akan dapat meringankan sakitmu dan menenteramkan dadamu.”

Tetapi ia menolak ajakan itu.  Lalu saudaranya bepergian seorang diri untuk berburu.

 

     Kisah Tidak Senonoh Terjadi di Dalam Istana

Pada waktu itu di istana terdapat jendela-jendela yang menghadap ke arah taman saudaranya. Ia memandang ke sana. Tiba-tiba sebuah pintu istana terbuka, lalu keluarlah dari situ dua puluh orang sahaya perempuan dan juga dua puluh orang budak laki-laki, sedang istri saudaranya berjalan di antara mereka dengan penampilan yang sangat cantik dan molek, hingga sampailah mereka di pancuran air. Mereka pun membuka pakaian masing-masing, lalu duduk-duduk satu bersama yang lain. Dan tiba-tiba istri sang raja berkata: “Hai Mas’ud !”

Lalu datanglah seorang budak kulit hitam, kemudian mendekatinyanya, maka ia pun mendekati budak itu, dan budak itu bercumbu dengannya. Begitu pula yang dilakukan oleh para budak  yang lain terhadap sahaya-sahaya wanita di situ. Tidak henti-hentinya mereka berbuat mesum, bercumbu, dan sejenisnya sampai menjelang siang.

Tatkala saudara raja menyaksikan peristiwa itu, ia berkata di dalam hati: “Demi Allah, musibahku lebih ringan dibanding musibah yang ini.”

Tiba-tiba menjadi ringanlah beban yang ada padanya berupa amarah dan duka hati. Ia berkata: “Ini lebih serius dibanding peristiwa yang melanda diriku.”. Seketika itu dia sudah dapat makan dan minum.

Tidak lama berselang, datanglah saudaranya dari bepergian. Ia mengucapkan salam kepada sebagian mereka. Raja Syahrayar memandang ke arah adiknya Raja Syah Zaman yang telah berubah rona mukanya dan memerah wajahnya. Selanjutnya ia dapat makan dengan lahapnya, sedangkan beberapa waktu yang lalu hanya makan sedikit. Abangnya merasa heran akan hal itu dan berkata: “Wahai saudaraku, sebelumnya kulihat kulit dan wajahmu pucat pasi, tetapi mengapa sekarang rona kulitmu kembali semula? Jelaskanlah kepadaku keadaan dirimu.”

Sang adik menjawab: “Berkaitan mengapa wajahku menjadi pucat pasi, itu akan kujelaskan kepadamu, tetapi maafkanlah diriku untuk tidak menjelaskan kepadamu mengapa rona wajahku dapat kembali seperti sedia kala.”

Kata sang abang: “Pertama-tama jelaskanlah kepadaku tentang berubahnya rona wajahmu dan melemahnya tubuhmu sehingga aku dapat mendengarnya.”

Sang Raja Muda Menuturkan Kisahnya

Ia berkata kepada saudaranya: “Wahai saudaraku, ketahuilah, bahwa ketika engkau mengutus salah seorang menterimu kepadaku memohon agar diriku berkunjung kepadamu, maka aku pun mempersiapkan diri. Ketika itu aku hendak meninggalkan kotaku. Tiba-tiba diriku teringat akan hiasan manik-manik yang hendak kuberikan kepadamu tertinggal di istanaku. Lalu kudapati istriku sedang tidur bersama seorang budak laki-laki kulit hitam, ia tidur di ranjangku. Lalu keduanya kubunuh. Aku pun datang kepadamu dalam keadaan terkenang akan peristiwa ini. Itulah yang menjadi penyebab memucatnya wajahku dan melemahnya tubuhku. Untuk alasan mengapa rona wajahku kembali seperti semula, maka maafkanlah diriku untuk tidak menjelaskannya kepadamu.”

Tatkala saudaranya mendengarkan ucapannya itu, ia pun berkata kepadanya: “Kumohon dengan nama Allah, kiranya jelaskanlah kepadaku sebab-sebab mengapa rona wajahmu dapat menjadi pulih!”. Lalu ia pun menceritakan segala yang telah disaksikannya.

Malam Ketika Syahrayar Hendak Membuktikan Kisah Adiknya

Kemudian Syahrayar berkata kepada saudara Syah Zaman:

“Saya bertujuan akan menyaksikannya dengan mata kepala saya sendiri.”

Saudaranya Syah Zaman pun menjawab kepadanya: “Buatlah seolah-olah engkau hendak pergi berburu, lalu bersembunyilah di tempatku berada, niscaya engkau akan menyaksikan hal itu dan membuktikannya dengan mata kepalamu.”.

Seketika itu juga sang raja mengumumkan, bahwa ia hendak bepergian. Lalu berangkatlah para tentara dan penata-penata kemah menuju ke luar kota, dan berangkat pulalah sang raja. Selanjutnya ia tinggal di dalam kemah seraya berkata kepada para pengawalnya: “Jangan ada seorang pun diizinkan masuk menghadap kepadaku.”

     Sang Raja Mengendap-endap Menuju ke Istana

Kemudian dengan mengendap-endap ia pergi seraya bersembunyi, ia pulang menuju bagian istana di mana saudaranya berada. Lalu duduk menghadap jendela yang menghadap ke arah kebun untuk beberapa saat lamanya. Tiba-tiba ada sejumlah sahaya perempuan bersama sang ratu mereka masuk bersama para budak laki-laki, dan berbuat seperti yang dikisahkan oleh saudaranya. Dan terus menerus berbuat seperti itu sampai tiba waktu Asar. Ketika Raja Syahrayar menyaksikan peristiwa seperti itu, maka terbanglah akal fikirannya meninggalkan kepalanya. Ia pun berkata kepada saudaranya Syah Zaman: “Marilah kita pergi jauh menetapkan jalan hidup kita sendiri, tidak ada gunanya kerajaan bagi diri kita, dengan cara itu kita akan dapat menyaksikan apakah terjadi juga kepada orang lain peristiwa seperti kita atau tidak. Mati akan lebih baik bagi kita daripada kita hidup!”

Sampai di sini Kisah 1001 Malam episode kedua terjemah oleh Hasan Barakuan, berikutnya akan segera dilanjut ke dalam episode kisah ketiga. Salam .  .  .

Untuk melihat episode pertama klik DI SINI

Untuk melihat contoh karya kitab terjemah Klik di sini

Atau dapat menghubungi kami: 081 575757 536 Hasan Barakuan

Berikut lokasi alamat kami:

Kisah 1001 Malam Episode Kedua oleh Hasan Barakuan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *